Mengapa Menjadi Pembicara di Konferensi Teknologi?

— 12 minute read

Selama dua tahun terakhir, saya berkesempatan untuk berpartisipasi di berbagai acara komunitas seperti meetup maupun konferensi di bidang teknologi, baik itu sebagai peserta atau pembicara. Kesempatan-kesempatan ini sungguh berkesan buat saya, karena saya merasa banyak sekali manfaat & pelajaran yang saya dapatkan, & saya juga senang sekali bisa berbagi apa yang saya tahu atau saya pelajari ke orang lain.

Bagi saya, memulainya memang tidak mudah. Ada beberapa hal yang membuat saya ragu, antara lain: saya takut berbicara di depan umum, saya tidak pede... & masih banyak lagi. Tetapi, pada akhirnya saya penasaran juga, & setelah saya menjalaninya, saya justru berandai-andai, seandainya saja saya sudah tahu tentang ini atau bahkan memulainya sejak dulu.

Saya berbicara di PyCon ID 2017
Pertama kali saya membawakan sebuah talk di konferensi, yaitu di PyCon ID 2017. Jujur dulu takut setengah mati. 😭 Credit: https://twitter.com/dvigneshwer

Nah, post ini ditujukan buat teman-teman yang sudah penasaran tentang berbicara di konferensi, tapi masih ragu-ragu untuk memulai. Harapannya sih post ini bisa mendorong teman-teman yang sudah penasaran atau mulai tertarik, tapi masih ragu karena satu dan lain hal.

Sebelum saya melanjutkan, saya mau menegaskan beberapa hal:

  • Mungkin acara komunitas bukanlah untuk semua orang, & menurut saya that's totally okay - ada beragam cara untuk mengembangkan diri & berkontribusi ke bidang teknologi, sehingga kalau kamu merasa lebih suka menjalani cara lain yang lebih cocok denganmu, then go for it. You do you!

  • Mengapa saya spesifik menyebut "konferensi teknologi"? Karena saya pribadi hanya punya pengalaman berpartisipasi di konferensi teknologi (dan konferensi akademik yang formatnya sangat berbeda dari konferensi teknologi), sehingga saya tidak yakin apakah tulisan ini dapat diaplikasikan ke konferensi lain. Kalau ternyata tulisan ini dapat diaplikasikan ke konferensi-konferensi di luar konferensi teknologi, then that's good!

  • Untuk berpartisipasi di konferensi teknologi, tidak ada batasan pekerjaan. Yang penting topik yang dibawakan sejalan dengan tujuan dari konferensi tersebut. Talk yang dibawakan juga tidak melulu harus tentang "coding"/teknis—bisa juga tentang manajemen, lessons learned, dan lain-lain.

  • Sebagai gambaran, berikut adalah beberapa contoh konferensi teknologi yang saya tahu:

  • Di sini, saya juga menggunakan istilah konferensi teknologi untuk mengacu ke acara komunitas yang berbeda tapi cukup serupa seperti meetup. Karena kalau menulis "meetup atau konferensi", kayaknya bakal terlalu panjang. 😂

  • Terakhir, semua hal yang saya tulis di bawah ini berdasar dari pengalaman pribadi saya, jadi mungkin bisa berbeda tiap orang tergantung pengalaman masing-masing.

Membagikan apa yang kamu ketahui ke orang lain

Saya sering menghabiskan waktu berjam-jam atau bahkan berhari-hari untuk memahami suatu topik atau memperbaiki sebuah bug misalnya, & saya senang mencari cara bagaimana supaya orang lain tidak harus menghabiskan waktu selama itu & mengalami penderitaan yang sama seperti saya (haha) untuk memahami atau menyelesaikan masalah yang sama. Saya juga senang sekali apabila bisa menginspirasi orang lain untuk mengembangkan aplikasi mereka sendiri dengan libraries atau tools keren yang saya temui.

Yap, sebenarnya ini juga bisa dilakukan via medium lain seperti blog, YouTube, & masih banyak lagi, tergantung preferensi masing-masing. Untuk lebih spesifiknya mengapa konferensi, akan saya bahas di poin-poin selanjutnya.

Menjangkau lebih banyak orang

"Loh, tapi nge-post di media sosial juga bisa menjangkau banyak orang, bahkan mungkin lebih." Hal ini ada benarnya, & pada awalnya saya juga berpikir seperti ini. Namun seiring perjalanan, berikut hal-hal yang saya pelajari:

  • Tidak semua orang seaktif itu di sosial media sehingga punya follower yang banyak & memiliki jangkauan yang luas (saya termasuk salah satunya :P)
  • Dari sisi audiens, banyak juga audiens yang tidak seaktif itu di sosial media. Salah satu audiens dari konferensi yang saya hadiri bahkan bercerita bahwa ia baru main Twitter belakangan ini, & ia minta rekomendasi ke saya tentang siapa aja yang harus di-follow kalau mau tahu tentang topik machine learning. Jadi, masih banyak orang di luar sana yang tidak bisa kita jangkau via media sosial karena satu dan lain hal.
  • Pun, jika kamu aktif di sosial media, mungkin orang-orang yang mengikuti kamu adalah orang-orang yang field-nya dekat atau bersinggungan dengan field kamu. Sementara di konferensi, topiknya dikurasi oleh pihak konferensi, dan biasanya topik-topiknya pun cukup beragam. Besar kemungkinan akan ada orang yang mungkin tidak familiar dengan kamu/topik yang kamu bawakan, tapi akhirnya jadi penasaran & ingin belajar lebih lanjut. Sebagai contoh, waktu saya berbicara di JSDay ID, jumlah orang yang berkecimpung di dunia data science mungkin tidak terlalu banyak karena memang JavaScript masih cukup jarang digunakan untuk data science. Namun, karena topik saya membahas machine learning, banyak orang yang berprofesi sebagai front-end developer menceritakan bahwa mereka jadi tertarik & ingin belajar tentang machine learning lebih lanjut, atau bahkan ingin menggabungkan pengetahuan yang telah mereka punya dengan machine learning yang tentunya bakal seru sekali.

Lagi pula, dua hal tersebut—berbagi di sosial media & berbicara di konferensi—juga bukan dua hal yang mutually exclusive, jadi kalau memang keduanya memungkinkan untukmu, why not? :D

Datang ke konferensi tanpa harus bayar

Pada umumnya, konferensi itu berbayar meskipun terkadang beberapa konferensi mempunyai skema beasiswa. Seringkali saya tidak punya biaya yang cukup untuk datang ke konferensi, apalagi kalau konferensinya ada di kota lain sehingga saya harus membayar transportasi juga.

Kalau kamu menjadi pembicara, pihak konferensi setidaknya akan menanggung biaya tiket konferensi kamu. Beberapa konferensi bahkan menanggung biaya transportasi & akomodasi juga. Jadi, dengan menjadi pembicara, kamu otomatis bisa hadir ke konferensi yang kamu minati dengan biaya yang minimal (atau bahkan tanpa biaya).

Belajar hal baru

Ketika kamu mengajukan sebuah proposal, mungkin kamu sudah cukup familiar dengan topik yang akan kamu bawakan. Tetapi, ketika kamu menyusun materi, kemungkinan besar kamu akan menemukan hal baru yang dapat mendukung materimu, & pada akhirnya kamu akan menambah pengetahuanmu terkait materi yang akan kamu bawakan. Apalagi kalau kamu sedang menyiapkan jawaban-jawaban untuk menjawab pertanyaan yang mungkin muncul di sesi tanya-jawab. Saya sendiri selalu menemukan hal baru yang saya pelajari meskipun membawakan talk yang sama beberapa kali.

Terkadang, saya juga mendapatkan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin belum saya dapat jawab dengan sempurna, namun hal itu justru memotivasi saya untuk menggali lebih dalam lagi topik yang terkait dengan pertanyaan tersebut.

Demo dari salah satu aplikasi yang saya buat di JSDay ID. Credit: https://twitter.com/kelimuttu

Berkenalan dengan orang baru & memperluas jaringan

Berkenalan dengan orang baru adalah manfaat yang bisa kamu dapatkan baik ketika kamu datang sebagai peserta maupun sebagai pembicara. Permasalahannya adalah, kalau kamu adalah seseorang yang bersifat introvert seperti saya, mungkin kamu akan mengalami kesulitan dalam memulai pembicaraan terlebih dahulu.

Ketika kamu menjadi seorang pembicara, biasanya justru audiens yang akan nyamperin duluan, karena biasanya mereka mempunyai pertanyaan atau ingin tahu lebih lanjut tentang topik yang kamu bawakan. Banyak juga yang sebenarnya tidak punya pertanyaan, tapi ingin menyampaikan terima kasih secara langsung atas talk yang kamu bawakan.

Selain itu, biasanya pihak konferensi akan mengadakan yang acara speakers' dinner khusus untuk pembicara & pihak pengurus. Di acara ini, kamu bisa lebih leluasa berkenalan dengan sesama pembicara dan organizer di luar konferensi, sambil bertukar cerita tentang pekerjaan atau proyek yang sedang kamu kerjakan.

Tips:

  • Saat kamu berbicara, kamu bisa tegaskan kepada audiens bahwa mereka boleh nyamperin kamu saat break misalnya. Dengan ini, audiens tidak sungkan untuk berbicara denganmu langsung.
  • Kadang kamu akan mendapatkan slot berbicara di akhir, dan biasanya peserta akan segera pulang. Apabila demikian, pastikan bahwa kamu menulis akun media sosialmu di presentasi, & tegaskan bahwa audiens boleh banget mengirim e-mail atau pesan ke akun media sosialmu apabila mereka punya pertanyaan.

Bersama para pembicara di ScotlandJS tahun 2018. Credit: https://twitter.com/scotlandjs

Melatih kemampuan berkomunikasi

Saya merasa kemampuan berkomunikasi saya, apalagi lisan, adalah salah satu aspek dari diri saya yang perlu saya asah. Sebagai seseorang yang aslinya pemalu, dari kecil saya selalu "melarikan diri" dari situasi apapun yang mengharuskan saya berbicara di depan banyak orang. Ditambah lagi sebagai lulusan dari jurusan ilmu komputer yang lebih banyak terpaku di depan laptop, sewaktu kuliah saya tidak terlalu mempunyai banyak kesempatan untuk mengasah kemampuan ini.

Setelah saya memasuki dunia kerja, saya menemukan bahwa kemampuan berkomunikasi itu sangat penting. Meskipun saya menghabiskan sebagian besar waktu saya ngoding di depan laptop, pasti akan ada saat-saat di mana saya harus berbicara di depan banyak orang—entah itu rapat, sharing session, atau incident review.

Meskipun masih perlu diasah lagi, saya merasa berbicara di konferensi sangat membantu saya untuk membiasakan diri berbicara di depan banyak orang. Saya rasa saya akan lebih kesulitan lagi kalau belum pernah mempunyai pengalaman berbicara di konferensi sebelumnya.

Selain itu, di konferensi saya juga belajar bagaimana saya bisa "mengemas" agar informasi yang saya sampaikan dapat diterima oleh audiens dengan mudah. Saya harus menyesuaikan konten dan penyampaiannya dengan audiens. Penyampaian sebuah topik dengan audiens di sebuah konferensi JavaScript dengan konferensi umum akan berbeda. Sama halnya di dunia kerja, penyampaian ke teman-teman di tim yang sama mungkin akan berbeda caranya dengan penyampaian ke orang-orang yang berasal dari tim yang berbeda.

Mempromosikan perusahaanmu, proyekmu, atau dirimu sendiri

Mempromosikan di sini bukan berarti kamu harus terang-terangan "berjualan", ya. Contohnya, dengan mencantumkan proyekmu saja, audiens bisa jadi terdorong untuk mencari tahu lebih lanjut tentang proyek yang kamu sebutkan. Ini bisa menjadi kesempatan yang bagus apabila kamu mempunyai proyek open-source yang sedang mencari kontributor, misalnya.

Sama halnya dengan perusahaan. Sebagai contoh, dengan menyelipkan sedikit informasi bahwa perusahaanmu sedang mencari programmer, audiens jadi tahu bahwa kamu sedang mencari UI engineer. Siapa tahu ada beberapa orang di audiens yang juga sedang mencari pekerjaan & cocok dengan role yang sedang kamu cari. Konferensi juga dapat menjadi ajang untuk menunjukan proyek seperti apa yang sedang dikerjakan oleh perusahaanmu sekarang.

Begitu juga dengan promosi diri. Pembicara dapat menjadi faktor yang menentukan apakah seseorang akan datang ke sebuah konferensi atau tidak. Seringkali, audiens sudah mencari tahu lebih dahulu tentang pembicara sebelum ia datang ke konferensi tersebut atau talk tersebut, entah itu dengan mengecek LinkedIn-mu atau situs pribadimu. Dengan menjadi pembicara, kamupun sebenarnya sudah "memperkenalkan diri" sebelum kamu melakukan talk tersebut.

Contoh lain adalah ketika kamu sudah lebih sering berbicara di konferensi, bukan tidak mungkin kamu akan dikenal oleh pengurus konferensi lain & justru akan diundang ke konferensi, alih-alih kamu yang mendaftarkan diri lewat proses mendaftarkan proposal seperti biasa.

Tips:

  • Pendapat saya pribadi: tetap jadikan audiens sebagai prioritas utamamu ketika memberikan talk. Saya tidak menyarankan membawakan talk yang berbau hard-selling. Hal ini tergantung konferensinya, namun dari kebanyakan konferensi yang pernah saya datangi (terutama yang diinisiasi oleh komunitas), tujuan utamanya adalah untuk saling berbagi ilmu. Pastikan bahwa substansi dari talk yang kamu bawakan tetap sejalan dengan tujuan utama dari konferensi tersebut.
  • Masing-masing konferensi punya kebijakan masing-masing tentang talk yang berbau pitching, bahkan setahu saya ada konferensi yang tidak memperbolehkan pembicaranya menggunakan proprietary software. Jadi, pastikan dulu sebelum kamu memasukkan proposal, ya!

Bonus: jalan-jalan!

Kalau kamu berbicara di konferensi yang ada di kota yang belum pernah kamu kunjungi sebelumnya, bisa saja kamu menyisihkan waktu satu hari ekstra untuk mengeksplor kota tersebut. Apabila biaya transportasimu ditanggung oleh pihak konferensi, biasanya pihak konferensi tidak akan keberatan untuk menyesuaikan tanggal kedatangan & keberangkatan sesuai dengan permintaanmu (selama harganya masih dalam batas wajar). Pada umumnya, biaya akomodasi ekstra perlu kamu tanggung sendiri.

Terkadang, beberapa pengurus konferensi akan berbaik hati untuk mengadakan city tour bagi pembicara-pembicara yang datang dari luar daerah, sehari sebelum atau sesudah konferensi.

Oke, saya tertarik! Tetapi, apa yang harus saya lakukan selanjutnya?

Masih ada beberapa hal yang kamu perlu lakukan.

Kamu harus mencari topik, menulis proposal, menyiapkan biografimu, mencari konferensi yang bisa kamu daftarkan...

... dan kalau sudah diterima, kamu juga harus menyiapkan presentasi, menyiapkan demo, dan lain-lain.

Meskipun kedengarannya banyak, tapi jangan khawatir! Banyak resource yang dapat membantumu untuk memulai. Banyak juga orang yang sudah berpengalaman sebagai pembicara ingin membantumu supaya kamu bisa memberikan talk-mu di konferensi yang kamu inginkan, apalagi pembicara teknologi yang berasal dari Indonesia jumlahnya masih sedikit.

Topik ini sebenarnya bisa saya jabarkan di post lain, tapi singkatnya, saya sendiri ingin sekali melihat lebih banyak pembicara teknologi dari Indonesia. Jumlah pembicara teknologi dari Indonesia, apalagi di konferensi tingkat global, masih dapat dibilang sedikit. Saya percaya bahwa kita mempunyai banyak perspektif yang bisa dibagikan ke orang lain, baik itu di Indonesia sendiri maupun di luar negeri. Sebagai gambaran, Indonesia merupakan salah satu negara dengan pengguna Internet terbanyak di dunia, tetapi sayangnya mayoritas perkembangan teknologi yang bersinggungan dengan Internet masih terpusat di luar negeri. Layaknya user feedback yang dapat bermanfaat untuk perkembangan sebuah produk, saya rasa kita bisa berkontribusi terhadap perkembangan teknologi yang lebih baik dengan cara membagikan perspektif kita ke orang lain.

Kembali lagi, sebenarnya ada banyak orang yang bisa membantumu untuk memulai. Sebagian dari orang ini akan datang di acara Global Diversity CFP Day Jakarta 2020, sebuah workshop yang bertujuan untuk membantumu menjadi pembicara di konferensi teknologi. Gratis!

Global Diversity CFP Day 2020

Di acara ini, kita akan membahas proses end-to-end dari memberikan sebuah talk di konferensi—mulai dari proses penulisan proposal sampai menyiapkan talk-nya itu sendiri. Tidak hanya itu, akan ada mentor dan fasilitator yang siap membantumu dalam penulisan proposal. Kalau kamu mau, bahkan proposal yang kamu sudah siapkan dan di-review oleh mentor bisa langsung kamu submit ke meetup atau konferensi yang kamu minati.

Global Diversity CFP Day sendiri adalah acara yang sifatnya global—sekitar 50 workshops di 30 negara akan berpartisipasi di hari yang sama!

Di Jakarta, acara ini akan diadakan tanggal 18 Januari 2020 di Microsoft Indonesia. Kami akan segera membuka pendaftaran dan mengumumkan informasi terkait mentor dalam waktu dekat ini.

Untuk info lebih lanjut, kamu bisa mengecek situs ini.

Di 2019, kami juga sudah mengadakan Global Diversity CFP Day, & kamu bisa membaca recapnya di post yang ditulis oleh Rizky Ariestiyansyah, salah satu mentor yang juga membawakan materi di Global Diversity CFP Day tahun lalu.

Kamu juga bisa membaca blog posts berikut:

Apabila kamu memiliki pertanyaan, silakan kirim pesan ke Twitter saya @galuhsahid atau @kelimuttu yang juga merupakan penyelenggara acara ini.

Sampai jumpa di Global Diversity CFP Day 2020!

Terima kasih Kiki atas proofread-nya untuk post ini!